Alat Pengolah Air Hujan Jadi Air Minum Karya Indonesia

 



Rp 1.500.000

Simon Sanjaya, pakar Teknologi Tepat Guna Kec Andir (Bandung), telah membuat alat pengolah air hujan menjadi air minum yang disebut Pembuat Air Langit Cilangit. 

Mengapa membuat air minum dari air hujan? 

BAPPENAS dalam Kajian Lingkungan Hidup Stratergis (KHLS) RPJM 2019 memproyeksikan ketersediaan air akan mencapai kelangkaan absolut pada 2040. Kelangkaan absolut  bisa diartikan jumlah sumber daya tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Kekeringan absolut ini tidak peduli pada seberapa banyak mencari sumber tambahan, tidak akan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Kekurangan air ini akan menyebabkan kekeringan, gagal panen dan kelaparan.

Air minum masyarakat umumnya dipenuhi dengan menyedot air tanah. Di seluruh Indonesia ada 700 merk AMDK yang beredar (Tabloid Kontan, 2019). Perusahaan AMDK ini selain melakukan penyedotan air tanah secara massive, menimbulkan sampah botol plastik yang mencemari lingkungan. Pengolahan air hujan menjadi air minum adalah solusi kami mengatasi masalah-masalah tersebut

Apakah aman?

Wajar jika yang langsung terbersit di pikiran setiap orang, apakah air hujan aman untuk dikonsumsi? Tentu saja aman jika tahu caranya. Air hujan melewati serangkaian proses filtrasi dan sinar UV dulu sebelum jadi air minum, pada tahap memanen air hujan pun tidak sembarangan sehingga kontaminasi polusi udara dapat diminimalisir. Gambar di atas menunjukkan hasil uji lab Dinas Kesehatan yang menyatakan bahwa air minum memenuhi syarat kesehatan. Jadi masyarakat bisa tenang untuk mengonsumsinya.

Dari kuisioner yang kami sebarkan kepada 500 responden pada tanggal 23 Februari 2021 -13 Maret 2021, 42 % responden membeli galon bermerk, 28% beli galon isi ulang, 17 % mengolah air minum sendiri menggunakan Pure It, Advance, dan sisanya metode lain-lain. Dari 500 responden ini 38,6 % menganggap biaya untuk air minum tersebut mahal. Dengan Pembuat Air Langit Cilangit, masyarakat dapat memperoleh air minum dengan harga yang relatif lebih murah dari cara semua metode di atas.

Zaman dahulu, Indonesia punya budaya menyediakan air minum di depan rumah untuk para pelancong, tidak ubahnya seperti Singapore yang menyediakan tap water di taman/fasilitas umum untuk dinikmati warga negara asing maupun lokal. Alangkah indahnya jika setiap daerah dapat bekerja sama memanen dan mengolah air hujan kemudian dikembalikan lagi ke masyarakat untuk secara gratis. Keuntungan hasil penjualan alat ini pun dialokasikan oleh Pak Simon untuk operasional Yayasan SS.

Spesifikasi
1. 1 buah nanofilter 1 mikron 
2. 1 buah tabung sinar UV C 30 Watt
3. 1 buah pompa 25 Watt
4. PxLxT= 100 cm x 26 cm x 65 cm

-Minum Air Langit Demi Kehidupan Masa Depan Anak Cucu-

Penulis: Carolina -Mikrobiologi ITB 2012

Comments

Popular posts from this blog

Bagaimana Meningkatkan Kesadaran Masyarakat Terhadap Lingkungan?